Dari Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Usaha, KKN MIT 22 UIN Walisongo Posko 103 Kenalkan Budidaya Maggot di Desa Karangrowo
Sesi pemaparan materi dan demontrasi yang disampaikan oleh Komunitas Nol Sampah (Komunals) kepada peserta workshop Budidaya Maggot, Jumat (21/8/2026).
DIREKTORIJATENG.ID - Sampah organik rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai. Hal tersebut dikenalkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) UIN Walisongo Semarang Posko 103 melalui workshop pengelolaan sampah organik yang berfokus pada budidaya maggot di Gedung Serbaguna Kantor Desa Karangrowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta yang merupakan kader kesehatan Desa Karangrowo dengan menghadirkan pemateri dari Komunitas Nol Sampah (Komunals) Gunungpati, Kota Semarang.
Workshop ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot yang dapat dilakukan secara sederhana di lingkungan rumah.
Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Fajar, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan sekaligus alternatif pemanfaatan sampah organik bagi masyarakat Desa Karangrowo.
"Tujuan dari adanya workshop ini yaitu untuk mengelola sampah organik melalui budidaya maggot, agar sampah organik atau sampah rumah tangga tidak terbuang sia-sia,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan materi dijelaskan oleh Mirza Musyaffa, bahwa sampah organik yang berasal dari rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya maggot. Beberapa bahan yang dapat diberikan antara lain buah-buahan dan sisa makanan. Namun, kondisi pakan perlu diperhatikan agar tidak terlalu keras, terlalu kering, maupun terlalu basah sehingga sesuai untuk mendukung pertumbuhan maggot.
"Pemberian makanan untuk maggot ini bisa dengan buah-buahan, sayuran atau yang lainnya, asalkan tekstur tidak keras karena itu akan membuat maggot susah mengurainya karena kan mereka menyerap makanan tersebut," ungkapnya dalam sesi materi.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai siklus hidup maggot, mulai dari telur, kemudian berkembang menjadi larva, hingga menjadi lalat dewasa yang selanjutnya kembali menghasilkan telur.
Pemahaman mengenai siklus hidup tersebut menjadi bagian penting dalam mengenalkan proses budidaya maggot secara berkelanjutan.
"Proses dari budidaya maggot ini perlu diperhatikan karena agar disetiap fasenya bisa diproses dan terbudidaya dengan baik," tambahnya.
Tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah, budidaya maggot juga memiliki potensi ekonomi. Maggot yang telah dibudidayakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun dijual kepada pihak yang membutuhkan. Pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi sampah sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Ida, salah satu peserta workshop menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sampah organik yang dapat dilakukan dari rumah.
"Tentunya saya merasa senang ya karena dapat pengetahuan baru dan juga saya sudah sedikit penasaran bagaimana proses budidayanya, jadi kemungkinan akan mencoba sendiri di rumah" Terangnya.
Workshop budidaya maggot tersebut menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN MIT 22 UIN Walisongo Posko 103 untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.
"Diharapkan setelah adanya workshop ini masyarakat menjadi paham bagaimana solusi lain yang bisa diterapkan untuk permasalahan terkait sampah organik rumah tangga yang ada di Karangrowo selama ini, yaitu dengan budidaya maggot tadi," terang Sulis selaku Koordinator Divisi Kesehatan Masyarakat (KesMas) KKN Posko 103.
Reporter: Tim Humas KKN UIN Walisongo Posko 103

Belum ada Komentar untuk "Dari Sampah Rumah Tangga Jadi Peluang Usaha, KKN MIT 22 UIN Walisongo Posko 103 Kenalkan Budidaya Maggot di Desa Karangrowo"
Posting Komentar