Cegah Perundungan Sejak Dini, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Edukasi Anti Bullying dan Cyberbullying di SD N 1 Pilangrejo
Perundungan atau bullying masih menjadi persoalan yang kerap luput dari perhatian, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital. Padahal, jika dibiarkan, dampaknya dapat memengaruhi tumbuh kembang psikologis anak dalam jangka panjang.
Kesadaran itulah yang coba dibangun
mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 113 melalui
kegiatan Sosialisasi Anti Bullying dan Cyberbullying yang digelar bagi
siswa-siswi kelas 4 di SD N 1 Pilangrejo, Demak, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi salah satu
program bidang pendidikan karakter, sekaligus menjawab kebutuhan penguatan
literasi digital di kalangan anak usia sekolah dasar yang kini semakin akrab
dengan gawai dan media sosial.
Dalam pemaparannya, mahasiswa KKN
Posko 113 menjelaskan bahwa bullying adalah perilaku menyakiti orang lain yang
dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, baik melalui kata-kata maupun
tindakan, seperti mengejek, memukul, mengucilkan, hingga menghina kekurangan
teman.
Siswa juga diperkenalkan pada empat
jenis bullying, yakni bullying fisik (memukul, menendang, mendorong), bullying
verbal (mengejek, menghina, memberi julukan buruk), bullying sosial
(mengucilkan teman, tidak mengajak bermain, menyebarkan gosip), serta cyberbullying
(menghina lewat media sosial, mengirim komentar jahat, menyebarkan foto atau
video tanpa izin).
Cyberbullying sendiri didefinisikan sebagai tindakan menyakiti orang lain melalui internet atau media digital, seperti komentar merendahkan, penyebaran foto tanpa izin, pembuatan meme yang menghina, hingga mengeluarkan teman dari grup percakapan dengan tujuan mengejek.
"Anak-anak zaman sekarang sudah
sangat akrab dengan gawai dan media sosial, sehingga edukasi mengenai bullying
tidak bisa lagi hanya membahas kekerasan fisik atau verbal saja, tapi juga
harus menyentuh isu cyberbullying. Kami ingin adik-adik di sini paham bahwa
kata-kata yang mereka ketik di internet pun bisa melukai orang lain," ujar
Rifqin.
Materi sosialisasi turut menyoroti
dampak serius dari perilaku bullying, baik bagi korban maupun pelaku. Bagi
korban, perundungan dapat memicu risiko depresi, kecemasan, gangguan tidur,
penurunan prestasi akademik, bahkan pada kasus yang parah dapat memunculkan
pikiran untuk mengakhiri hidup. Sementara bagi pelaku, tindakan ini berisiko
menimbulkan masalah akademik serta kecenderungan perilaku kekerasan di kemudian
hari.
Mahasiswa juga membekali siswa dengan
sejumlah langkah yang bisa dilakukan apabila mengalami perundungan, di
antaranya tidak membalas dengan hinaan, menyimpan bukti berupa tangkapan layar,
memblokir akun pelaku jika diperlukan, menceritakan kejadian kepada guru, orang
tua, atau orang dewasa yang dipercaya, serta tetap percaya diri dan tidak
menyalahkan diri sendiri.
Sebagai penguat nilai moral,
mahasiswa mengajak siswa merenungkan alasan mengapa bullying tidak boleh
dilakukan, yakni karena setiap orang ingin dihargai, memiliki perasaan, dan
diciptakan berbeda satu sama lain. Nilai ini turut dikuatkan dengan mengutip
QS. Al-Hujurat ayat 11, yang melarang manusia merendahkan, mencela, dan
memanggil orang lain dengan gelar yang mengandung ejekan.
Edukasi Bijak Bermedia Sosial
Selain materi seputar bullying,
mahasiswa turut memberikan edukasi mengenai kebijaksanaan dalam menggunakan
internet. Siswa diajak untuk selalu berpikir sebelum mengirim pesan dengan
menanyakan pada diri sendiri: apakah pesan tersebut benar, baik, sopan, dan
bermanfaat. Jika jawabannya "tidak", maka pesan tersebut sebaiknya
tidak dikirim.
Siswa juga didorong untuk
memanfaatkan internet untuk hal-hal positif, seperti belajar, mencari
informasi, berkarya, berkomunikasi dengan sopan, dan menyebarkan hal-hal yang
bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Wali kelas 4, Ratna Utami memberikan tanggapan
positif atas sosialisasi yang digelar mahasiswa KKN Posko 113. Menurutnya,
materi yang disampaikan mudah dipahami karena dikemas dengan bahasa sederhana
dan contoh kasus yang dekat dengan keseharian siswa.
"Materinya tepat untuk usia anak
kelas 4, karena mereka jadi tahu bahwa bercanda yang berlebihan atau mengejek
teman itu ternyata termasuk bullying. Semoga setelah kegiatan ini anak-anak
lebih saling menghargai dan tidak lagi saling mengejek di kelas," ujar
guru tersebut.
Kegiatan tersebut ditutup dengan
momen refleksi bersama, di mana seluruh siswa diajak untuk tidak melakukan
bullying maupun cyberbullying, menghargai setiap teman, menggunakan internet
dengan bijak, serta berani melapor apabila melihat tindakan bullying di sekitar
mereka.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa
KKN UIN Walisongo Posko 113 berharap dapat menumbuhkan kesadaran di kalangan
siswa SD N 1 Pilangrejo untuk bersama-sama memerangi bullying dan
cyberbullying, sekaligus menciptakan lingkungan pertemanan dan lingkungan
digital yang lebih aman dan nyaman bagi semua orang.
Penulis: Tim KKN UIN Walisongo
Posko 113
Belum ada Komentar untuk "Cegah Perundungan Sejak Dini, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Edukasi Anti Bullying dan Cyberbullying di SD N 1 Pilangrejo"
Posting Komentar