Dorong Digitalisasi UMKM di Margosari, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 200 Edukasi Metode Pembayaran QRIS secara Door-to-Door
KENDAL – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 200 melalui bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) memberikan edukasi penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kepada pelaku usaha di Desa Margosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Rabu (26/8/2026).
Edukasi dilakukan secara door to door dengan mendatangi langsung pelaku usaha. Kegiatan tersebut menjadi salah satu program kerja bidang Ekraf yang diarahkan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap pembayaran digital sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi dalam kegiatan usaha.
Dalam kunjungannya, mahasiswa KKN memberikan penjelasan mengenai QRIS, manfaat transaksi non-tunai, serta cara penggunaannya sebagai metode pembayaran. Penyampaian dilakukan secara langsung agar pelaku usaha dapat memahami mekanisme pembayaran QRIS dan mengetahui penggunaannya dalam transaksi dengan konsumen.
Salah satu pemilik usaha angkringan, Nur Choliq, menilai penggunaan QRIS semakin relevan dengan kebiasaan konsumen saat ini, terutama kalangan anak muda yang mulai terbiasa melakukan pembayaran secara digital.
“Iya, Mbak, ini sangat membantu karena anak-anak zaman sekarang sudah tidak terlalu suka membawa uang cash. Banyak dari mereka kalau ke angkringan mencari QRIS. Jadi, edukasi ini sangat membantu,” kata Nur Choliq.
Ia juga menjelaskan bahwa edukasi dari mahasiswa KKN membuat dirinya dapat memahami sekaligus mulai memanfaatkan QRIS dalam kegiatan usahanya.
“Alhamdulillah, mulai sekarang sudah bisa menggunakan QRIS karena dibantu dan diajari teman-teman KKN. Jadi kalau ada pembeli yang tidak membawa uang tunai, mereka tetap bisa bayar pakai QRIS ini,” ujar Nur Choliq.
Koordinator bidang Ekonomi Kreatif, Amaliyah, menyampaikan bahwa QRIS dapat menjadi alternatif pembayaran yang memudahkan pelaku usaha dalam melayani konsumen. Pembayaran secara digital juga dapat mengurangi sejumlah kendala yang berpotensi terjadi dalam transaksi tunai, seperti menerima uang palsu atau kesalahan saat memberikan uang kembalian.
“Di zaman sekarang, QRIS memberikan kemudahan dalam transaksi non-tunai. Pelaku usaha dapat mengurangi risiko menerima uang palsu maupun kesalahan dalam menghitung kembalian. Satu kode QR juga dapat digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi, sehingga transaksi menjadi lebih praktis,” ujar Amaliyah.
Ia menjelaskan, konsumen cukup melakukan pemindaian terhadap kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Dengan sistem tersebut, pelaku usaha tidak perlu menyediakan kode QR yang berbeda untuk setiap aplikasi pembayaran.
Edukasi secara door to door juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan pelaku usaha dan mengetahui kebutuhan mereka dalam penerapan pembayaran digital. Pendekatan tersebut membuat informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Melalui edukasi ini, KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 200 berharap pemanfaatan teknologi digital dapat semakin dikenal oleh pelaku usaha di Desa Margosari. Pemanfaatan QRIS tidak hanya memudahkan proses transaksi dengan konsumen, tetapi juga membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembayaran digital. Dengan adanya pendampingan secara langsung, pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan QRIS secara berkelanjutan sebagai bagian dari aktivitas usaha sehari-hari.
Penulis: Tim KKN Posko 200 UIN Walisongo

Belum ada Komentar untuk "Dorong Digitalisasi UMKM di Margosari, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 200 Edukasi Metode Pembayaran QRIS secara Door-to-Door"
Posting Komentar