Pilih Kos, Pondok, atau Marbut? Panduan Tempat Tinggal Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
![]() |
| Kehidupan mahasiswa di kos-kosan (Ilustrasi by Nano Banana) |
DIREKTORIJATENG.ID - Hidup mahasiswa
selalu disuguhi dengan banyak pilihan. Ia dipengaruhi oleh latar belakang
keluarga, kondisi ekonomi, nilai yang diyakini, serta lingkungan sosial tempat
mahasiswa tersebut tumbuh dan belajar. Salah satu keputusan penting yang
dihadapi mahasiswa, khususnya perantau, adalah memilih tempat tinggal selama
masa studi. Di sekitar UIN Walisongo Semarang, pilihan tersebut mengerucut pada
tiga pola utama yakni tinggal di kos, mondok di pesantren, dan memilih jalan hidup alternatif seperti
menjadi marbot masjid.
Kos menawarkan
ruang privat dan fleksibilitas tinggi, berbeda dengan kehidupan pondok yang
kolektif dan terstruktur. Bagi Najwa, mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan
semester 3, kos menjadi pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya saat
ini.
Najwa memilih
tinggal di Kost Alcenna, Perum Pokok Pondasi, Ngaliyan, karena faktor
kenyamanan dan responsivitas pemilik kos. Lingkungan yang relatif tenang serta
fasilitas yang memadai menjadi pertimbangan utama.
“Kos di sini
nyaman, terus respon ibunya juga cepat,” ujarnya pada Sabtu, (13/15/2025).
Dalam memilih kos,
Najwa mempertimbangkan jarak, harga, dan fasilitas secara seimbang. Meski tidak
berada tepat di depan kampus, ia merasa jarak tersebut masih bisa ditoleransi
karena diimbangi dengan harga dan fasilitas yang ditawarkan dinilai sepadan. Kebersihan
terjaga, lingkungan nyaman, dan akses ke berbagai kebutuhan cukup mudah.
“Ketutup sama harga
dan fasilitasnya. Ke mana-mana juga dekat,” katanya.
Selama ngekos,
Najwa belum pernah mengalami kenaikan harga maupun keterlambatan pembayaran. Ia
menilai relasi antara mahasiswa dan pemilik kos bersifat saling menguntungkan.
Mahasiswa mendapatkan tempat tinggal yang layak, sementara pemilik kos
memperoleh pemasukan yang dibutuhkan untuk keberlanjutan usaha.
“Mahasiswanya dapat
tempat yang sesuai, ibunya juga butuh pemasukan. Jadi sama-sama diuntungin,”
tuturnya.
Pengalaman serupa
dirasakan Raihan, mahasiswa Manajemen Dakwah yang juga memilih kos dengan
pertimbangan harga dan ketenangan lingkungan. Dengan biaya Rp650.000 per bulan,
ia mendapatkan fasilitas dasar seperti kasur, lemari, meja belajar, Wi-Fi, dan
dapur bersama. Meski jarak kos ke kampus cukup jauh yakni di Kost Pak Untung,
Jalan Jatisari Baru 1, Mijen, kepemilikan kendaraan pribadi membuat hal
tersebut bukan masalah besar. Kos yang berada cukup jauh dari kampus justru
memberikan suasana yang lebih tenang dan kondusif untuk belajar. Raihan merasa
bahwa kos-kos di sekitar kampus cenderung lebih mahal dan bising.
“Kos dekat kampus
rata-rata lebih mahal dan ramai. Di sini lebih tenang,” ujarnya pada
Senin, (15/12/2025).
Saat ini, Raihan
membayar Rp650.000 per bulan. Ia mengaku pernah mengalami kenaikan harga, namun
masih dalam batas yang wajar.
“Sebelumnya
Rp600.000, naiknya masih bisa saya sesuaikan,” katanya.
Fasilitas yang
diterima dinilai sepadan dengan harga yang dibayarkan. Meski tidak mewah,
fasilitas dasar seperti kasur, lemari, Wi-Fi, dan dapur bersama sudah mencukupi
kebutuhan sehari-hari. Ia juga menyoroti pentingnya sikap pemilik kos. Ketika
pernah terlambat membayar karena kendala kiriman orang tua, pemilik kos
memberikan toleransi.
Dari sisi pemilik
kos, Suroyo memandang usaha kos-kosan bukan semata sebagai ladang bisnis,
melainkan juga bentuk tanggung jawab sosial. Ia membuka Kost Alcenna dengan
mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa dan pekerja di sekitar kawasan kampus dan
industri.
Dalam menentukan
harga, ia melakukan survei kos sekelas di sekitar lokasi, terutama yang
memiliki fasilitas serupa seperti kamar mandi dalam, Wi-Fi, dan air bersih 24
jam.
“Saya ambil
referensi dari kos-kos yang sekelas dengan fasilitas yang kami buat,” jelasnya.
Namun, ia secara
sadar menolak sistem pembayaran jangka panjang yang memberatkan mahasiswa.
“Saya enggak sampai
hati kalau harus narik setengah tahun atau satu tahun,” ujarnya.
Menurutnya,
mahasiswa sudah menghadapi banyak kebutuhan di awal masa kuliah, sehingga
fleksibilitas pembayaran menjadi bentuk empati.
Ketika mahasiswa
mengeluh soal harga atau fasilitas, ia berusaha mencari solusi, seperti
pembayaran bulanan atau penyesuaian harga sesuai kondisi.
“Kalau melihat
kondisi mahasiswanya, saya pertimbangkan,” katanya pada Sabtu, (13/12/2025).
Bagi Suroyo,
penghuni kos bukan sekadar penyewa, tetapi individu yang perlu merasa aman dan
nyaman. Ia juga mengakui bahwa lokasi kos yang dekat kampus memang mempengaruhi
harga. Kawasan seperti Tanjungsari cenderung lebih mahal karena akses langsung
ke kampus. Namun, ia berusaha menempatkan harga kosnya sedikit di bawah pasar
agar tetap terjangkau.
Memilih di Pondok Pesantren atau Jadi Marbut Masjid
Di tengah maraknya
kos-kosan di sekitar kampus, pondok pesantren tetap menjadi pilihan bagi
sebagian mahasiswa. Namun, menurut Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., pemilik pondok
pesantren Ibnu Hajar, keputusan untuk mondok bukanlah pilihan yang mudah atau
sekadar alternatif murah. Mondok menuntut kesiapan mental, kedisiplinan, serta
kesadaran akan konsekuensi hidup kolektif.
Dalam pandangannya,
mahasiswa yang memilih mondok adalah mereka yang siap diatur oleh sistem.
Kehidupan pondok sudah memiliki ritme yang jelas seperti bangun subuh, shalat
berjamaah, mengikuti kegiatan pondok, lalu menjalani aktivitas perkuliahan.
Tidak ada ruang besar untuk hidup serba bebas seperti di kos.
“Yang mempengaruhi
mahasiswa memilih mondok atau kos itu tergantung orangnya. Kalau dia siap
bertanggung jawab dengan kewajiban di pondok, dia akan tetap memilih mondok,”
ujarnya.
Ia menekankan bahwa
latar belakang ekonomi bukan faktor utama. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa dari
keluarga berada yang tetap memilih mondok karena menginginkan kehidupan yang
lebih terarah dan terkontrol.
“Meskipun dia orang
kaya, kalau dia siap bangun subuh, ikut kegiatan, dan hidup bareng teman-teman,
ya tetap mondok,” tuturnya.
Dibandingkan kos,
pondok menghadirkan kontrol sosial yang kuat. Mahasantri tidak hanya hidup
untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk komunitas. Pola ini membentuk
kebiasaan disiplin dan rasa tanggung jawab yang, menurut Umul Baroroh, sulit
didapat jika mahasiswa hidup sepenuhnya bebas. Menurutnya hanya perlu
memikirkan biaya makan, sementara tempat tinggal sudah difasilitasi. Ia
menegaskan bahwa pondok yang dikelolanya tidak berorientasi pada keuntungan
pribadi.
“Saya membuat
pondok ini tidak cari untung. Jadi, soal uang itu bukan yang utama,” katanya saat diwawancarai pada Kamis, (11/12/2025)
Namun, biaya tetap
diperlukan karena fasilitas pondok harus terus dijaga. Ketika ada kerusakan,
perbaikan harus segera dilakukan agar kenyamanan bersama tetap terjaga.
“Kalau ada barang
rusak ya dibenerin. Itu kan perlu biaya, bayar tukang, beli keperluan,”
jelasnya.
Untuk menekan
pengeluaran, ia menanamkan nilai hidup sederhana kepada para santri, seperti
tidak boros listrik dan menjaga kebersihan kamar. Bagi Umul Baroroh, pondok
adalah ruang pendidikan karakter, bukan sekadar tempat tinggal.
Menariknya, Umul
Baroroh memiliki pandangan kritis terhadap narasi bahwa mahasiswa terjepit oleh
mahalnya harga kos atau pondok. Menurutnya, persoalan tersebut seringkali
disederhanakan.
“Sebenarnya tidak
ada yang benar-benar terjepit. Pemilik kos dan pondok juga sudah menghitung
dengan valid,” tegasnya.
Ia menilai bahwa
mahasiswa memiliki pilihan, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Mahasiswa
yang menginginkan fasilitas lengkap tentu harus siap membayar lebih mahal.
Sebaliknya, mereka yang memilih mondok harus siap dengan keterikatan aturan.
Ia juga menyoroti
gaya hidup mahasiswa modern yang menurutnya justru menjadi sumber pemborosan.
“Mahasiswa sekarang
itu sukanya beli minuman mahal, latte-latte. Itu yang sebenarnya bikin boros,”
ujarnya.
Pandangan ini
menunjukkan bahwa persoalan ekonomi mahasiswa tidak berdiri sendiri, melainkan
berkaitan erat dengan pola konsumsi dan prioritas hidup.
Di luar pilihan
tinggal di kos dan pondok pesantren, Muhammad Ridho, mahasiswa Prodi Manajemen
Dakwah asal Tegal, memilih jalan hidup yang berbeda. Sejak 2024, ia menjadi
marbut dan bermukim di Masjid Al Muqorobin, Perum Permata Puri, Ngaliyan.
Keputusan ini
diambil bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi karena pertimbangan
spiritual dan pengembangan diri. Ridho merasa kehidupan di masjid memberinya
arah hidup yang lebih jelas.
“Kalau jadi marbut,
hidup saya lebih terarah,” ujarnya pada Jum’at, (12/12/2025).
Sebagai marbut,
Ridho tidak perlu mengeluarkan biaya tempat tinggal. Selain itu, aktivitas
ibadah dan sosialnya lebih terjaga. Ia aktif mengajar TPA, menjadi tenaga
privat mengaji, dan terlibat dalam kegiatan dakwah.
“Ibadah lebih
tenang, sholat lebih tepat waktu,” katanya.
Meski menilai kos
di sekitar UIN Walisongo cukup layak dari segi harga dan fasilitas, Ridho
merasa bahwa kehidupan marbut memberikan nilai lebih yang tidak bisa diukur
secara materi. Namun, bagi dirinya, kehidupan marbut menawarkan nilai tambah
yang tidak bisa didapat dari kos seperti kebermaknaan hidup, keterlibatan
sosial, dan kedekatan spiritual.(*)
(Mahasiswa KPI UIN Walisongo Peminatan Jurnalistik 2025, Liputan ini Merupakan Output Mata Kuliah Teknik Reportase dan Investigasi)

Belum ada Komentar untuk "Pilih Kos, Pondok, atau Marbut? Panduan Tempat Tinggal Mahasiswa UIN Walisongo Semarang"
Posting Komentar