Fenomena Mahasiswa UIN Walisongo Kuliah Sambil Kerja: Antara Kemandirian dan Risiko Semester Molor

Banyaknya mahasiswa memilih untuk bekerja di sela kuliah, salah satunya di industri food and beverages (FnB) (Ilustrasi by Nano Banana)

DIREKTORIJATENG.ID - Bekerja menjadi cara bagi para manusia untuk memenuhi kebutuhan dan manjadi mahasiswa juga termasuk dalam pencarian untuk memenuhi kebutuhan ilmu dalam dirinya. Fenomena mahasiswa bekerja sambil kuliah saat ini telah banyak dilakukan, kepadatan waktu dalam belajar bahkan mengerjakan tugas membuat waktu mahasiswa banyak terkuras. Menjalani kuliah sambil bekerja menjadi pilihan bagi sebagian mahasiswa untuk melatih kemandirian dan menambah penghasilan.

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam semester 5 Annanta Yulinda Kusuma Wardhani, mengungkapkan bahwa alasan utama dirinya bekerja adalah untuk menambah penghasilan sendiri sekaligus mengisi waktu luang di luar jam kuliah. Menurutnya, jadwal perkuliahan yang tidak berlangsung seharian memungkinkan dirinya untuk memanfaatkan waktu sore hingga akhir pekan untuk bekerja.

“Kuliah kan tidak dari pagi sampai malam. Jadi kalau selesai kuliah sore, saya langsung kerja. Kalau weekend saya ambil pagi karena tidak ada jadwal kuliah,” ujar Ananta.

Selain untuk menambah pemasukan, Ananta menilai memiliki penghasilan sendiri memberikan rasa nyaman dan tidak membebani orang tua. Ia mengaku lebih leluasa memenuhi kebutuhan pribadi serta memiliki tabungan untuk keperluan mendesak.“Kalau punya uang sendiri rasanya lebih enak. Kita tidak terus-menerus bergantung pada orang tua, apalagi untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak,” katanya.

Terkait pembiayaan kuliah, Ananta menyampaikan bahwa biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga saat ini masih ditanggung oleh keluarga. Sementara penghasilannya dari bekerja dimanfaatkan untuk kebutuhan tambahan, seperti membeli buku, menambah uang jajan, serta disimpan sebagai tabungan.

“Alhamdulillah UKT dan uang jajan masih dari orang tua. Tapi kalau ada kebutuhan tambahan, saya bisa pakai tabungan sendiri. Jadi uang makan tetap aman,” jelasnya.

Dalam hal manajemen waktu, Ananta menegaskan bahwa aktivitas bekerja tidak mengganggu perkuliahan. Hal tersebut dimungkinkan karena jadwal kerja yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan jam kuliah. Ia juga memastikan kegiatan organisasi yang diikutinya tetap berjalan dengan baik.

“Jam kerja saya fleksibel, bisa menyesuaikan dengan jam kuliah. Jadi tidak pernah bentrok. Organisasi juga tidak terganggu karena saya hanya ikut satu organisasi,” tuturnya.

Ananta mengakui bahwa menjalani peran sebagai mahasiswa, pekerja, dan aktivis organisasi memang cukup menyita waktu. Namun, dengan pengaturan waktu yang baik, ia merasa seluruh aktivitas tersebut masih dapat dijalani secara seimban

Lain halnya dengan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah (MD) semester tujuh, Kumala Nur Afiah kuliah sambil bekerja sudah dilakukannya sejak mahasiswa baru hingga kini telah melakukan sidang terbit jurnal.

Baginya alasan bekerja karna ingin memiliki tabungan agar setelah lulus tidak bingung dan untuk memenuhi targetnya.

"Pengen nyari pengalaman agar setelah lulus kuliah Curiculum Vitae (CV) nya tidak kosong dan dapat pengalaman kerja, karena kalau hanya organisasi realita kadang beda jauh dengan kerja,"ujarnya, Senin(15/12/2025).

Pekerjaan yang dilakukannya sejak maba adalah joki tugas karena dirinya waktu itu masih berada di Ma'had, kemudian semester tiga ia menjadi kasir.

"Aku jadi kasir yang masih bisa merangkap buat ngerjain tugas, bawa laptop gitu,"ujarnya.

Ketika semester lima dirinya berpindah kerja lagi yang tidak bisa membawa laptop sehingga harus fokus dengan kerja.

"Aku manfaatin waktu untuk ngerjain pas malam, jam 12 batas maksimal untuk bekerja agar tidak terlalu kacau pikirannya,"

Dirinya juga mengikuti dua organisasi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat dan Forum Mahasiswa KIP-K (Formakip) Walisongo, ketika di Amanat kegiatan aktifnya saat pulang kuliah dan malam untuk merevisi berita.

"Karena aku bagian redaktur kalau di Amanat karena fleksibel kalo free aku edit, sedangkan di Formakip waktu itu bagian media dan pekerjaannya tidak banyak aku masih bisa handle,"tuturnya.

Dari pekerjaan yang dilakukannya tidak ada tuntutan dari orang tuanya, justru jika dirasa sudah menganggu kuliahnya mereka menyuruh itu berhenti agar kembali fokus untuk belajar.

"Aku malah termotivasi ternyata bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja dan ga pernah tabrakan, terus tidak ada absen yang kosong paling satu semester hanya satu atau dua kali,"katanya.

Pada semester tujuh Kumala berhasil sidang dengan menerbitkan jurnal. Pengajuan judulnya dimulai sejak semester enam ketika Ulangan Tengah Semester. Ia juga sempat ditolak dan hilang respon dari dua jurnal tetapi dirinya tidak menyerah.

"Waktu semester enam sampai liburan aku penelitian dan menyusun untuk menyelesaikan target, ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) revisian kemudian sempro dan November kemarin bisa terbit,"ungkapnya.

Lain halnya dengan Mahasiswa Ilmu Politik Muhammad Shafi’i yang saat ini berada di semester sebelas. Ia pernah mengambil cuti selama 2 semester. Awal bekerja di tahun 2023, tepatnya pada semester 9, setelah semua mata kuliahnya selesai orang tua sudah tidak memberikan uang saku lagi.

“Sebagai anak pertama tidak membebani orang tua, dan saya ingin berusaha mandiri dan saya inginnya mandiri,”Katanya.

Shafi’i bekerja sebagai barista di sebuah kafe di Ngaliyan dengan gaji 1,2 jt sebulan, tugasnya membuat makanan atau minuman tergantung dengan jadwalnya. Kalau bekerja sehari 10 jam dari jam 3 sore sampai tutup, untuk libur dirinya dijatah satu bulan tiga hari.

“Dampak kerja sambil kuliah itu kacau, Terbengkalai. Makanya sampai molor sampai 11 semester,”Ujarnya.

Alasan bisa sampai sebelas semester karena ia belum dapat menajamen waktu yang benar dan baik, dan tidak ada uang untuk membayar UKTnya sehingga mengambil cuti saat semester 9 dan 10.

Motivasinya untuk tetap kuliah karena tanggung jawab dari orang tua dan tidak ingin mengecewakan orang tua yang telah percaya untuk kuliah serta untuk menambah ilmu yang setinggi-tingginya. Saat ini ia masih mengusahakan untuk segera lulus.

Dilema Mahasiswa Bekerja Dalam Menyelesaikan Kuliah 

Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Silvia Riskha Febriar, mengapresiasi semangat mahasiswa pekerja. Menurutnya mahasiswa semacam ini lebih terlatih manajemen waktu, entah untuk meringankan beban orang tua atau sekadar mencoba dunia kerja.

"Saya mengapresiasi ya dengan mahasiswa yang demikian gitu karena biasanya mereka punya kemandirian. Mereka punya ketangguhan karena punya semangat bekerja," ungkapnya.

Namun, ia juga menyoroti sisi negatifnya, ketika mahasiswa sudah paham dengan uang, mereka cenderung terlena dengan kenyamanan finansial.

"Akhirnya ya enggak menutup kemungkinan kuliahnya keteteran, kuliahnya ketinggalan begitu, jadwal kerja yang padat sering membuat mereka lelah, sehingga kuliah menjadi prioritas kedua, bahkan terbengkalai hingga semester molor,”katanya,

Pada mahasiswa perwaliannya, belum ada yang drop out (DO), tetapi banyak yang berhenti di tahap skripsi. Dampaknya terasa hingga ke jurusan, mulai dari rasio akreditasi hingga konflik dengan dosen yang kerap didomba mahasiswa dengan alasan "saya kan kerja".

"Sudah enak kerja dapat uang, ngapain harus ngerjain skripsi susah-susah,”tuturnya.

Jurusan telah berupaya mengadakan kelas akselerasi khusus mahasiswa semester akhir, agar mereka segera bisa menyelesaikan skripsinya. Meski demikian, keberhasilan bergantung pada kemauan mahasiswa sendiri, bukan sekadar fasilitasi jurusan.

Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Asep Dadang Abdullah menyampaikan pandangannya mengenai fenomena mahasiswa yang menjalani kuliah sambil bekerja. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan realitas yang banyak terjadi di kalangan mahasiswa dan tidak menjadi persoalan selama yang bersangkutan mampu mengatur waktu dan tanggung jawabnya dengan baik.

“Mahasiswa yang kuliah sambil bekerja itu nyata adanya. Tidak masalah, selama mereka bisa mengatur waktu, aktivitas dan tetap menjaga proses belajarnya. Tentu ada risiko, tetapi juga ada sisi positifnya,”ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sebagian mahasiswa bekerja karena tuntutan ekonomi, seperti untuk membiayai kuliah sementara sebagian lainnya melakukannya sebagai bentuk pengembangan diri meskipun orang tua telah mampu membiayai pendidikan. Menurutnya, kedua alasan tersebut sah-sah saja selama mahasiswa siap menghadapi konsekuensi yang muncul.

Dadang menilai, mahasiswa yang mampu membagi waktu dengan baik justru akan memperoleh banyak manfaat, seperti terlatih dalam manajemen waktu, menjadi lebih mandiri, serta lebih siap menghadapi dunia kerja. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang mampu berprestasi baik secara akademik maupun profesional.

“Saya menemukan beberapa mahasiswa KPI yang kuliah sambil bekerja di bidang yang sesuai dengan kompetensinya, seperti jurnalistik, broadcasting atau public relations. Ilmu yang didapat di kampus bisa langsung dipraktikkan di tempat kerja. Ini sangat bagus untuk persiapan karier mereka,”tambahnya.

Namun demikian, Dadang juga mengakui adanya mahasiswa yang mengalami drop out (DO) akibat terlalu fokus bekerja hingga mengabaikan kewajiban akademik. Menurutnya, hal tersebut umumnya terjadi karena mahasiswa terlena dengan pekerjaan dan baru menyadari kewajiban akademik saat masa studi hampir habis.

“Padahal waktu studi masih cukup panjang, sampai 14 semester. Kalau dari awal bisa mengatur, seharusnya masih sangat mungkin untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu,” jelasnya.

Terkait dampak terhadap jurusan KPI, Dadang menyatakan bahwa mahasiswa yang tidak lulus memang berpengaruh terhadap proses akreditasi. Namun, hingga saat ini angka mahasiswa yang tidak lulus di Jurusan KPI masih berada dalam batas aman dan belum mencapai ambang maksimal yang ditentukan.

Ia juga menegaskan bahwa sebagian besar mahasiswa yang tidak melanjutkan studi di KPI bukan disebabkan oleh pekerjaan, melainkan karena faktor lain, seperti mengundurkan diri sejak semester awal atau kehilangan kontak tanpa keterangan yang jelas.

Sebagai bentuk perhatian, Jurusan KPI secara aktif melakukan pendampingan terhadap mahasiswa yang terlambat lulus khususnya mahasiswa semester akhir. Setiap semester, jurusan melakukan identifikasi dan mengadakan pertemuan rutin untuk membantu mahasiswa menyelesaikan permasalahan akademik maupun non akademik.

“Kami kumpulkan mereka seminggu sekali untuk sharing, diskusi dan mencari solusi bersama. Permasalahannya macam-macam mulai dari pekerjaan, ekonomi hingga rumah tangga. Alhamdulillah, upaya ini cukup berhasil,” ungkap Dadang.

Ia berharap langkah-langkah pendampingan tersebut dapat menjaga motivasi mahasiswa agar tetap menyelesaikan studi dan tidak kehilangan semangat untuk datang ke kampus.(*)

Reporter : Ayunda Puji, Arisda Putri, Dwi Endang Setyorini, Abdurrohmannirrohim
Editor: Farida
(Mahasiswa KPI UIN Walisongo Peminatan Jurnalistik 2025, Liputan ini Merupakan Output Mata Kuliah Teknik Reportase dan Investigasi) 

Belum ada Komentar untuk "Fenomena Mahasiswa UIN Walisongo Kuliah Sambil Kerja: Antara Kemandirian dan Risiko Semester Molor"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel