Sebelum Membangun Rumah Tangga, KKN Posko 145 Ajak Remaja Membangun Diri
Senin, 10 Agustus 2026
Tulis Komentar
Di usia 16 tahun, masa depan biasanya masih berupa banyak kemungkinan.
Ada yang ingin menjadi guru, dokter, polisi, pengusaha, atau sekadar ingin melanjutkan sekolah setinggi mungkin. Sebagian pula ada yang masih sibuk mencari tahu siapa dirinya dan apa yang sebenarnya ingin ia lakukan kelak.
Pada usia itu, pertanyaan tentang pernikahan mungkin terasa masih jauh. Tetapi justru pada usia tersebut, seseorang mulai berhadapan dengan berbagai pilihan yang perlahan menentukan arah hidupnya.
Sebanyak 24 remaja dengan rata-rata usia 16,7 tahun berkumpul di Balai Desa Tlogosih, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Mereka tidak datang untuk membicarakan pesta pernikahan atau bagaimana memilih pasangan. Mereka justru diajak berbicara tentang satu hal yang sering kali terlupakan sebelum pernikahan: kesiapan diri.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 145 menghadirkan edukasi pencegahan pernikahan dini dengan membicarakan persoalan tersebut dari beberapa sisi, mulai dari psikologi, KUA, hingga pemerintahan desa.
Bagi Erfina, anggota KKN Posko 145 yang membawakan materi psikologi, usia remaja merupakan masa ketika seseorang masih sibuk menemukan dirinya sendiri.
Ia menyebut usia 13–19 tahun sebagai fase identity versus role confusion. Pada fase ini, remaja berada dalam proses pencarian identitas dan memahami peran yang akan dijalani.
“Identitas vs kebingungan peran umur 13–19. Di sini manusia memasuki usia remaja, di mana dia hanya mementingkan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensinya atau dia memikirkan kesenangan sementara,” ujar Erfina.
Pernikahan, di sisi lain, meminta seseorang untuk berpikir lebih jauh daripada sekadar apa yang menyenangkan hari ini. Ada keputusan yang harus dipertanggungjawabkan, perbedaan yang harus dihadapi, serta emosi yang harus dikendalikan.
Karena itulah, persoalan psikologis menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan pernikahan dini.
“Adapun dampak dari pernikahan dini salah satunya yaitu dapat meningkatkan stres dan konflik emosional,” kata Erfina.
Ketika Cinta Bertemu Tanggung Jawab
Mungkin mudah membayangkan pernikahan sebagai kehidupan bersama orang yang dicintai. Namun, kehidupan setelah pernikahan memiliki cerita yang jauh lebih panjang.
Ada kebutuhan ekonomi, ada perbedaan pendapat, ada tanggung jawab, ada pula saat ketika dua orang harus belajar mengalah meskipun masing-masing merasa benar.
Jumain, pemateri dari Kantor Urusan Agama (KUA), mengingatkan bahwa sebelum menikah seseorang perlu melihat kesiapan dirinya secara menyeluruh.
“Sebelum menikah perlu dicek terlebih dahulu apakah fisik, mental, ekonomi dan di atas 19 mencukupi?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah.
Sebab, memenuhi usia bukan berarti seluruh persoalan otomatis selesai. Kehidupan rumah tangga tetap membutuhkan kemampuan untuk saling menyayangi, memahami, jujur, memenuhi hak dan kewajiban, serta menyelesaikan masalah melalui musyawarah.
Menikah berarti bersedia menjalani proses belajar bersama seseorang—bahkan ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan harapan.
Bukan Larangan, Melainkan Persiapan
Pencegahan pernikahan dini juga bukan berarti menutup kesempatan seseorang untuk menikah. Yang ditekankan adalah kesiapan.
Afzal, Ketua Koordinator Posko 145, mengatakan bahwa kondisi mental dan ekonomi yang belum stabil pada usia muda dapat menjadi salah satu pemicu persoalan rumah tangga.
“Untuk membantu meminimalisir adanya pernikahan dini, dari sisi KUA tidak dianjurkan, bukan melarang, karena secara mental dan ekonomi itu belum stabil dan memicu adanya perceraian,” ujar Afzal.
Menurutnya, ada hal lain yang bisa dilakukan remaja sebelum memikirkan pernikahan.
“Umumnya anak muda masih banyak main-mainnya dan belajar. Persiapan mental dan ekonomi sangat diperlukan,” tambahnya.
Belajar, mengejar cita-cita, mencoba berbagai pengalaman, dan mengenali diri sendiri juga merupakan bentuk persiapan menuju masa depan.
Pertanyaan yang Lebih Jauh dari Sekadar Usia
Di sela kegiatan, peserta tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka mengikuti kuis dan diberi ruang untuk bertanya.
Ririn, salah satu peserta dari Tlogowaru, justru membawa pembahasan pada pertanyaan yang lebih jauh.
“Pondasi agar tetap sakinah mawadah gimana?” tanyanya.
Pertanyaan itu menarik. Di tengah pembahasan mengenai pencegahan pernikahan dini, seorang remaja justru sudah memikirkan bagaimana sebuah rumah tangga dapat bertahan dan tetap harmonis.
Saeful, pemateri dari perwakilan pemerintahan desa, menjawabnya dengan kalimat singkat:
“Meminta maaflah meskipun kamu nggak berbuat salah.”
Jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat satu hal yang sering kali sulit dilakukan manusia: mengalahkan ego.
Rumah tangga tidak hanya membutuhkan dua orang yang saling mencintai. Ia juga membutuhkan dua orang yang bersedia belajar memahami, berkomunikasi, dan mengendalikan diri.
Karena Masa Depan Tidak Harus Terburu-Buru
Bagi 24 remaja yang hadir hari itu, pernikahan mungkin masih menjadi sesuatu yang jauh. Dan mungkin memang tidak perlu terburu-buru untuk sampai ke sana.
Ada sekolah yang harus diselesaikan. Ada cita-cita yang perlu dikejar. Ada pengalaman yang perlu dikumpulkan. Ada diri sendiri yang masih perlu dikenali.
Pada akhirnya, mencegah pernikahan dini bukan hanya tentang mengatakan “jangan menikah terlalu muda.”
Lebih dari itu, remaja perlu diberi kesempatan untuk memahami mengapa mereka perlu menunggu, apa yang harus dipersiapkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin mereka bangun kelak.
Sebab sebelum membangun rumah bersama orang lain, seseorang perlu belajar membangun dirinya sendiri.
Dan mungkin, di usia 16,7 tahun, membangun masa depan berarti satu hal sederhana: berani bermimpi, terus belajar, dan tidak terburu-buru menentukan akhir dari sebuah perjalanan yang bahkan baru dimulai.
Belum ada Komentar untuk "Sebelum Membangun Rumah Tangga, KKN Posko 145 Ajak Remaja Membangun Diri"
Posting Komentar