Semarak Nobar Perdana Film 'Laut Bercerita': Semarang Jadi Kota Pembuka Kolaborasi Makarya Art Studio dan Gramedia

Daftar Isi


Jadwal nobar perdana film pendek Laut Bercerita di Kota Semarang. (Tangkapan layar Instagram/@makaryaartstudio)

SEMARANG, DIREKTORIJATENG.ID︱Semua Tentang Jateng – Kabar gembira bagi para pencinta literatur dan sinema alternatif. Film pendek adaptasi novel best-seller karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita, kembali menyapa penonton lewat agenda nonton bareng (nobar) spesial. Acara ini diinisiasi melalui kolaborasi apik antara Makarya Art Studio dan Gramedia, dengan memilih Kota Semarang sebagai titik pembuka rangkaian pemutaran sebelum berlanjut ke Yogyakarta dan Surabaya.

Pemutaran perdana di Semarang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 22 Oktober, bertempat di DP Mall Semarang mulai pukul 18.30 WIB. Rangkaian roadshow nobar ini sendiri dijadwalkan bergulir secara maraton mulai 22 Oktober hingga 25 Oktober. Pemesanan disini

Hadirkan Paket Menarik: Dari Merch hingga Bagcharm Eksklusif

Bukan sekadar penayangan film biasa, nobar kali ini menawarkan pengalaman apresiasi yang lebih berkesan. Pihak penyelenggara menyediakan beberapa pilihan paket tiket bundling yang memanjakan para penonton, mulai dari paket merchandise (merch) resmi hingga paket bagcharm bertema Laut Bercerita.

Kehadiran pernak-pernik tematik ini langsung menyedot antusiasme warganet, khususnya para pembaca novel yang ingin mengoleksi memorabilia fisik terkait kisah perjuangan Biru Laut dan kawan-kawannya.

Penulis Leila S. Chudori bersama novel fiksi sejarah populernya, Laut Bercerita, yang diadaptasi menjadi film pendek. (Foto: Dok. Kepustakaan Populer Gramedia / Istimewa)

Merawat Ingatan Lewat Sinema Komunitas

Film pendek yang ditayangkan dalam nobar ini berakar dari salah satu karya sastra paling berpengaruh di Indonesia modern: novel Laut Bercerita karya jurnalis sekaligus sastrawan terkemuka, Leila S. Chudori. Diterbitkan pertama kali oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Oktober 2017, novel ini lahir dari riset mendalam serta wawancara langsung dengan para korban penculikan aktivis 1997–1998 dan keluarga mereka.

Laut Bercerita membagi narasinya ke dalam dua sudut pandang emosional. Bagian pertama disuarakan oleh Biru Laut, seorang mahasiswa sastra dan aktivis gerakan Winatra yang diculik, disekap, disiksa, hingga akhirnya ditenggelamkan ke dasar laut bersama kawan-kawannya. Bagian kedua beralih ke daratan, disuarakan oleh Asmara Jati, adik Biru Laut yang menggambarkan luka batin keluarga korban—tentang ketidakpastian nasib orang terkasih, aksi payung hitam Kamisan, dan harapan yang tak pernah padam di meja makan yang selalu menyediakan piring kosong untuk Laut.

Buku ini bukan sekadar fiksi drama, melainkan upaya mendokumentasikan memori kolektif bangsa agar tragedi kemanusiaan di era Orde Baru tidak terkubur waktu. Popularitas novel ini terus melesat hingga diadaptasi menjadi film pendek berdurasi sekitar 30 menit yang disutradarai Pritagita Arianegara. Menampilkan Reza Rahadian sebagai Biru Laut, didukung Dian Sastrowardoyo dan Ayushita, film ini mengalihwahanakan kepedihan teks ke dalam visual sinematik yang intens.

Karena film ini memang diproduksi sebagai pelengkap pengalaman membaca dan tidak tayang di bioskop komersial reguler, gelaran pemutaran komunitas seperti yang diadakan Makarya Art Studio dan Gramedia di Semarang ini menjadi jembatan penting bagi penikmat buku untuk menyaksikan visualisasi kisah Biru Laut secara langsung di layar lebar.

Posting Komentar