Pakarti Usulkan Gedung Jiwa Sraya Semarang Jadi Museum Kolaborasi Fotografi dan Kartun
Daftar Isi
Ketua Umum Pakarti, Abdullah Ibnu Thalhah, menjelaskan bahwa fotografi dan kartun memiliki kedekatan sejarah yang erat karena sama-sama tumbuh dari akar media cetak. Menurutnya, kedua bidang ini memiliki peran serupa dalam merekam dinamika sosial dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Lebih lanjut, Thalhah yang juga merupakan dosen seni budaya di UIN Walisongo Semarang memaparkan bahwa sejarah kartun Indonesia memiliki nilai kebangsaan yang sangat kuat. Berdasarkan riset organisasi tersebut, tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Bung Karno dan Ernest Douwes Dekker tercatat memiliki karya kartun dan karikatur visual pada masa perjuangan.
“Berdasarkan hasil riset dan penelusuran Pakarti, ditemukan karya-karya kartun yang dibuat oleh Soekarno dan Ernest Douwes Dekker. Karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Keduanya memperlihatkan bagaimana gambar, humor, simbol dan kritik visual digunakan untuk merekam gagasan, semangat zaman serta dinamika perjuangan kebangsaan,” terang Thalhah.
Dukungan senada juga diutarakan oleh arsitek senior sekaligus mantan Ketua Dewan Tata Kota Semarang, Prof. Ir. Totok Roesmanto, Eng.. Menurut Totok, sebuah bangunan cagar budaya harus dihidupkan kembali melalui aktivitas kebudayaan yang dinamis dan interaktif dengan masyarakat sekitar.
“Keberadaan museum fotografi bersama museum kartun akan semakin menghidupkan Kota Lama secara artistik dan interaktif. Apalagi kita tahu, kartun memiliki sejarah khusus bagi kota Semarang hingga kota ini memiliki sebutan sebagai ‘ibukota kartun Nusantara,” kata Prof. Totok.
Guna mewujudkan rencana kolaborasi museum ini, Pakarti menyatakan kesiapan mereka untuk berdialog dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta para pemangku kepentingan lainnya.
“Pakarti siap menyumbangkan koleksi, hasil riset, pengetahuan, jaringan kartunis Indonesia maupun gagasan kuratorial untuk mewujudkan ruang museum kartun Indonesia di Semarang. Kami percaya fotografi, kartun, arsitektur, sejarah dan seni dapat bertemu dalam satu ekosistem kebudayaan,” pungkas Thalhah.
Secara terpisah, Senator DPD RI asal Jawa Tengah, Dr. Abdul Kholik, turut menyambut positif rencana integrasi tersebut. Pihaknya saat ini sedang membantu memfasilitasi komunikasi ide kreatif ini langsung ke Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
“Kami sedang membantu mengkomunikasikan ide kreatif ini ke kementerian kebudayaan di Jakarta. Kedua gagasan, baik gagasan kementerian kebudayaan maupun teman-teman Pakarti bisa disinergikan dan saling menyempurnakan, sehingga nantinya bisa diambil manfaat yang lebih besar bagi kemajuan kebudayaan,” sambut Abdul Kholik.***
“Kami menyambut baik gagasan Bapak Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk menjadikan Gedung Jiwa Sraya sebagai museum fotografi. Kami justru melihat peluang yang lebih luas: mengapa tidak dikembangkan menjadi ruang kebudayaan yang juga menghadirkan Museum Kartun Indonesia? Keduanya memiliki kedekatan sejarah dan sama-sama tumbuh dari akar media cetak,” ujar Thalhah pada Selasa (8/9/2026).
Lebih lanjut, Thalhah yang juga merupakan dosen seni budaya di UIN Walisongo Semarang memaparkan bahwa sejarah kartun Indonesia memiliki nilai kebangsaan yang sangat kuat. Berdasarkan riset organisasi tersebut, tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Bung Karno dan Ernest Douwes Dekker tercatat memiliki karya kartun dan karikatur visual pada masa perjuangan.
“Berdasarkan hasil riset dan penelusuran Pakarti, ditemukan karya-karya kartun yang dibuat oleh Soekarno dan Ernest Douwes Dekker. Karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga merupakan bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Keduanya memperlihatkan bagaimana gambar, humor, simbol dan kritik visual digunakan untuk merekam gagasan, semangat zaman serta dinamika perjuangan kebangsaan,” terang Thalhah.
Ia pun menegaskan pentingnya lembaga konservasi yang serius untuk mendokumentasikan, merawat, dan mendigitalisasi karya-karya visual tersebut.
Dukungan senada juga diutarakan oleh arsitek senior sekaligus mantan Ketua Dewan Tata Kota Semarang, Prof. Ir. Totok Roesmanto, Eng.. Menurut Totok, sebuah bangunan cagar budaya harus dihidupkan kembali melalui aktivitas kebudayaan yang dinamis dan interaktif dengan masyarakat sekitar.
“Keberadaan museum fotografi bersama museum kartun akan semakin menghidupkan Kota Lama secara artistik dan interaktif. Apalagi kita tahu, kartun memiliki sejarah khusus bagi kota Semarang hingga kota ini memiliki sebutan sebagai ‘ibukota kartun Nusantara,” kata Prof. Totok.
Semarang sendiri dikenal memiliki sejarah panjang perkembangan kartun nasional, termasuk menjadi tuan rumah festival kartun internasional sejak tahun 1988.
Guna mewujudkan rencana kolaborasi museum ini, Pakarti menyatakan kesiapan mereka untuk berdialog dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Pakarti berkomitmen menyumbangkan hasil riset, gagasan kuratorial, hingga koleksi awal kartun-kartun bersejarah milik Soekarno dan Douwes Dekker demi mendukung pengembangan narasi museum.
“Pakarti siap menyumbangkan koleksi, hasil riset, pengetahuan, jaringan kartunis Indonesia maupun gagasan kuratorial untuk mewujudkan ruang museum kartun Indonesia di Semarang. Kami percaya fotografi, kartun, arsitektur, sejarah dan seni dapat bertemu dalam satu ekosistem kebudayaan,” pungkas Thalhah.
Secara terpisah, Senator DPD RI asal Jawa Tengah, Dr. Abdul Kholik, turut menyambut positif rencana integrasi tersebut. Pihaknya saat ini sedang membantu memfasilitasi komunikasi ide kreatif ini langsung ke Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
“Kami sedang membantu mengkomunikasikan ide kreatif ini ke kementerian kebudayaan di Jakarta. Kedua gagasan, baik gagasan kementerian kebudayaan maupun teman-teman Pakarti bisa disinergikan dan saling menyempurnakan, sehingga nantinya bisa diambil manfaat yang lebih besar bagi kemajuan kebudayaan,” sambut Abdul Kholik.***

Posting Komentar